Friday, April 16, 2010

Manusia Dan Cinta Kasih

Nama : Muhammad Ichsan Andrian




Manusia Dan Cinta Kasih

Pendapat saya mengenai manusia dan cinta kasih,
Pendefenisian dalam perspektif terminology (bahasa), cinta kasih dapat diuaraikan Cinta kasih adalah kata majemuk yang telah merupakan ungkapan tetap yang berupa paduan antara kata sifat yang terdiri dari kata “cinta” dan “kasih”. Cinta akan diartikan sebagai rasa rindu, ingin, sangat suka, sangat saying, sangat kasih dan tertarik hatinya. Sedangkan kasih diartikan sebagai perasaan saying, cinta, atau suka kepada.
Dari kata cinta kasih ini, lahir pula beberapa padanan kata yang hampir semakna. Sebut misalnya, “kasih sayang”, “belas kasihan”, “kemesraan” dan “pemujaan”. Cinta kasih merupakan inti dari keberadaan manusia ( the core of existence ). Dalam konteks lain, cinta kasih mengandung makna yang lain, seperti “jatuh cinta”, “dilamun asmara”, “cinta orang tua kepada anak atau sebaliknya”, “cinta pada alam dan seni”, “cinta kepada negara”, “cinta sesama manusia” dan yang lebih tinggi “cinta kepada Allah Swt.”.
Semua istilah tersebut di atas tidak sama, akan tetapi merupakan variasi-variasi dari sekian banyak istilah. Istilah-istilah ini merupakan padanan yang sangat memiliki arti yang mengarah pada satu pemaknaan yang utuh. Sehingga melahirkan tingkatan-tingkatan cinta. Realitas yang tersaji sekarang dihadapan kita (kondisi internal dan eksternal masing-masing individu) sangat memungkinkan memberikan tingkatan pada cinta itu. Sehingga lahir ‘cinta kasih yang rendah’, ‘cintah kasih yang menengah’, dan ‘cinta kasih yang tinggi dan luhur’.
Tingkatan cinta ini bisa saja lahir karena factor pemahaman atau tingkat intelegensi seseorang atau bahkan tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang. Manusia dalam hal ini insan pecinta, tidak selamanya akan berada dalam tingkatan cinta tersebut. Cinta kasih yang rendah yang hanya sekedar menganggap cinta adalah sebuah rasa yang mesti diekspresikan seketika yang tanpa control dan nilai (absurd). Pecinta seperti ini cenderung melakukan aktivitas yang menamakan cinta namun bukan sebenarnya cinta. Tidak diperlukan control dalam penjabarannya bahkan cinta yang dimaksudkan memiliki nilai tapi seyogyanya tidak ada nilai kecuali ego dan nafsu semata yang bermain di dalamnya.
Cinta menengah lahir dikarenakan adanya paradigma bahwa cinta memiliki nilai namun tidak ada control maupun norma yang mengatur aplikasi. Pecinta seperti ini cenderung apatis bahkan boleh dikatakan manusia pragmatis. Nilai dimaknai sekedar pemenuhan hasrat dan rasa. Cinta ini tak bisa lagi dibedakan dengan nafsu. Pecinta ini melahirkan prilaku pacaran, dan sejenisnya. Penilaian akan cinta hanya sekedar sebagai rasa yang mesti diwujudkan. Kalaupun ada control yang bermain, disana hanya berupa rasionalisasi (hasil pemikiran) yang mengedapankan ego (egosentris ; tak semestinya juga ego diabaikan). Norma yang dianggap sebagai control hanya norma masyarakat. Selama tidak ada yang diganggu dan dirugikan, dan tak melewati batas kemanusiaan akan tetap dijalaninya.
Penggambaran akan aktualisasi cinta seperti di atas sudah sangat jauh dari fungsi dan peran manusia sebagai abdi sekaligus khalifah di muka bumi. Cinta rendah tak ubahnya seperti binatang (tidak adanya peran akal yang bermain dalam tataran prilaku), sedangkan pecinta tipe kedua memeliki pribadi ganda (split personality). Lalu bagaimana aktualisasi cinta yang sebenarnya yang luhur dan memiliki derajat yang tinggi? Kita akan uraikan pada penjabaran selanjutnya.
Dalam perspektif peradaban Yunani, cinta dibagi dalam tiga jenis. Ketiga jenis itu adalah;
Cinta Egape, ialah cinta manusia kepada Tuhan yang diwujudkan dengan komunukasi ritual (vertical/horizontal).
Cinta Philia, ialah cinta kepada ayah-ibu (orang tua), keluarga, saudara, sahabat, dan sesama manusia.
Cinta Eros / Amos, ialah cinta antara pria dan wanita (suami dan istri).

Cinta kasih tidak hanya sekedar cinta belaka, akan tetapi cinta kasih itu timbul dari lubuk hati manusia yang sifatnya kekal dan tak akan pernah berubah. Dengan cinta kasih ini, manusia akan selalu berbahagia dan menderita di dalam hidupnya. Cinta sebagai keperluan fundemantal memang tidak mudah diterangkan atau didefenisikan.
Mengacu pada perspektif sekarang, yaitu dalam hubungan cinta kasih yang timbul antara dua jenis manusia yang berbeda kelamin dapat dibedakan dalam empat macam pertumbuhan cinta, yaitu :
Cinta kasih karena kebiasaan
Adalah cinta yang diperoleh berdasarkan tradisi masyarakat yang dibiasakan, seperti menikahkan anak-anak yang sebelumnya tidak saling kenal dan cinta tumbuh karena ikatan sudah ada.
Cinta kasih karena penglihatan
Adalah cinta yang tumbuh karena penglihatan, seperti kata pepatah :
Darimana datangnya linta
Dari sawah turun ke kali
Darimana datangnya cinta
Dari mata turun ke hati
Manusia sebagai makhluk social mempunyai kodrat terbaik pada suatu obyek yang dipandang indah, cantik, menarik, dan lain-lain.
Cinta kasih karena kepercayaan
Adalah cinta kasih yang lahir dari kepercayaan atau keyakinan. Hubungan untuk memadu cinta kasih biasanya diperlukan waktu yang cukup lama untuk saling menyelidiki karakter, dan saling memupuk cinta kasih.
Cinta kasih karena angan-angan
Adalah cinta yang lahir dari pengaruh angan-angan atau khayal saja, cinta yang penuh fantasi.
Menurut teori, cinta adalah sikap dasar untuk memperhatikan kepuasan dan ketentraman serta perkembangan orang yang kita cintai. Prakteknya, cinta berarti bersedia melepas kesenangan, mengabadikan waktu, bahkan mengorbankan ketentraman kita demi peningkatan kepuasan, ketentraman, dan perkembangan orang lain. Namun, menerangkan anatomi cinta sangat sulit.




Cinta itu adalah sesuatu yang kompleks dan sulit untuk diterima akal logika ataupun nalar seorang manusia, setiap manusi akan pasti merasakan apa itu yang disebut cinta.

Contoh dari Cinta Kasih Manusia
Cinta kasih antar orang tua dan anak. Orang tua yang memperhatikan dan memenuhi kebutuhan anaknya, berarti mempunyai rasa cinta kasih terhadap anak. Mereka selalu mengharapkan agar anaknya menjadi orang baik dan berguna dikemudian hari.
b. Cinta kasih antara pria dan wanita. Seseorang pria menaruh perhatian terhadap seorang gadis dengan perilaku baik, lemah lembut, sopan, apalagi memberikan seuntai mawar merah, berarti ia menaruh cinta kasih terhadap gadis itu.
c. Cinta kasih antara sesama manusia. Apabila seorang sahabat berkunjung ke rumah kawannya yang sedang sakit dan membawa obat kepadanya berarti bahwa sahabat itu menaruh cinta kasih terhadap kawannya yang sakit itu.
d. Cinta kasih antara manusia dan Tuhan. Apabila seorang taat beribadah, menurut perintah Tuhan, dan menjauhi larangan-Nya, orang itu mempunyai cinta kasih kepada Tuhan penciptanya.
e. Cinta kasih manusia terhadap lingkungannya. Apabila seseorang menciptakan taman yang indah, memelihara taman pekarangan, tidak menebang kayu di hutan seenaknya, menanam tanah gundul dengan teratur, tidak berburu hewan secara semena-mena atau dikatakan bahwa orang itu menaruh cinta kasih atau menyayangi lingkungan hidupnya.

Manusia Dan Kebudayaan

Nama : Muhammad Ichsan Andrian






Manusia dan kebudayaan merupakan dua hal yang sangat erat terkait satu sama lain. Manusia memegang setiap aspek kehidupan manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lain dan manusia juga mahkluk sosial. Dalam beberapa hal, manusia dibangun dengan unsur-unsur berikut :
• Jasad
• Hayat
• Ruh
• Nafs
Manusia juga dapat dikatakan sebagai satu kepribadian yang mengandung tiga unsur yaitu id, ego, superego. Pada hakekatnya manusia adalah mahkluk ciptaan tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh. Selain itu manusia merupakan ciptaan tuhan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan mahluk lainnya, karena manusia memiliki suatu perasaan yang dapat mempengaruhi jiwa dan raga manusia secara keseluruhan, misalnya :
• Perasaan intelektual
• Perasaan estetis
• Perasaan etis
• Perasaan diri
• Perasaan sosial
• Dan perasaan religius
Dan pada hakekatnya manusia mempunyai sifat mahluk biokultural yaitu mahluk hayati yang budayawi. Manusia juga pada hakekatnya adalah mahluk ciptaan tuhan yang terikat dengan lingkungan (ekologi), yaitu mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuaanya bekerja dan berkarya.
Dalam jiwa manusia sebagai mahluk sosial, budaya itu mengandung delapan daerah yang seolah olah seperti lingkaran-lingkaran konsentris sekitar diri pribadi.
• Dalam lingakaran terluar antara lingkaran ke-7 dan ke-6 disebut daerah tak sadar dan sub tak sadar .
• Di lingkaran no-5 disebut juga dengan kesadaran yang tak dinyatakan (unexpressed conscious).
• Pada lingakaran no-4 disebut juga dengan kesadaran yang dinyatakan (expressed conscious) dalam lingkaran ini didalam alam jiwa manusia mengandung pikiran-pikiran, gagasan, dan perasaan-perasaan yang dapat dinyatakan secara terbuka.
• Lingkaran no-3 disebut juga dengan lingkaran hubungan karib, mengadung konsepsi tentang sesuatau yang dapat digunakan sebagai tempat diajak bergaul dan temapat aman untuk berlindung juaga temapat pencurahan hati.
• Pada lingkaran no-2 disebut juga dengan lingkaran dari lingkungan hubungan berguna yang dapat membentuk suatu interaksi yang saling menguntungkan.
• Di lingakaran no-1 disebut juga dengan lingkaran hubungan jauh, yang terdiri dari pikiran dan sikap dalam alam jiwa tentang sesuatu yang dapat mempengaruhi secara langsung terhadap kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan dirinya .
• Lingakaran no-0 disebut juga dengan lingkungan dunia luar yang terdiri dari pikiran-pikiran dan anggapan-anggapan yang hampir sama dengan pikiran yang terletak dalam lingkaran no-1.
Kebudayan menurut dua atropolog terkemuka bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang memiliki masyarakat itu dan kebudayaan dipandang sebagai sesuatu yang superorganic, karean kebudayaan yang turun-temurun dari generasi ke generasi berikutnya dan dapat disimpulkan budaya merupakan sesuatu yang susah untuk diubah. Kebudayaan juga dapat diartikan dalam bahasa sansekerta yang berarti budi dan akal. Jadi secara umum dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi (pikiran) manusia dengan tujuan untuk mengelolah tanah atau tempat tinggalnya.
Unsur-unsur kebudayaan adalah apa saja sesunggunya kebudayaan itu, sehingga kebudayaan disini lebih mengandung makna totalitas dari pada sekedar penjumlahan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya. Dalam hal ini unsur-unsur kebudayaan banyak versinya, menurut melville kebudayaan mempunyai empat unsur yaitu :
• Alat-alat teknologi.
• Sistem ekonomi.
• Keluarga
• Dan kekuatan politik.
Sedangkan menurut bronislaw mengatakan bahwa unsur kebudayaan terdiri dari sistem norma, organisasi ekonomi, alat-alat atau lembaga dan organisai kekuatan.
Tapi menurut c.kluckhonh didlam karyanya mengemukakan bahwa ada tujuh unsur budaya universal yaitu :
• Sistem religi atau sistem kepercayaan dalam hal ini sistem religi telah melahirkan produk manusia sebagai homo religieus.
• Sistem organisasi kemasyarakatan sehingga dapat dikatakan sistem organisasi kemasyarakatan merupakan produk dari manusia sebagai homo socious.
• Sistem pengetahuan meruapakan produk dari manusia sebagai homo sapiens. Oleh karena itu kemampuan manusia untuk mengetahui dan menyebarkannya adalah penyebab utama pengetahuan telah beredar luas.
• Sistem mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi merupakan produk manusia sebagai homo economicus sehingga dapat menjadikan tingkat kehidupaan manusia secara umum terus meningkat secara pesat.
• Sistem teknologi dan peralatan merupakan produk manusia sebagai homo faber hal ini dapat dinyatakan dalam kemampuan manusia yang dapat mengendalikan alat sebagai hal yang berguna.
• Bahasa meruapakan produk manusia sebagai homo longuens yang merupakan sarana untuk komunikasi dan interaksi antar manusia.
• Kesenian meruapakan hasil dari manusia sebangai homo aesteticus.
Masalah lain yang juga penting tentang kebudayaan adalah wujudnya. Secara umum kebudayaan dapat dibedakan dalam 2 bentuk wujud :
• Pertama kebudayaan bendaniah atau material dengan ciri dapat dirasakan saja.
• Kedua kebudayaan rohaniah atau spiritual dengan ciri dapat dirasakan saja.
Tapi menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wjud yaitu :
• Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia. Wujud ini disebut sistem budaya, bersifat abstrak, tidak dapat dilihat dan berpusat pada manusia.
• Kompleks aktifitas. Berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersiafat konkret, dapat diamati dan diobservasi.
• Wujud sebagai benda. Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunaan peralatan sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuan aktivitas tersebut menghasilkan benda untuk berbagai keperluaan hidupnya.
Orientasi nilai budaya. Kebudayaan sebagai karya manusia memiliki sistem nilai. Menurut c.kluckhohn dalam karyanya, sistem budaya dalam semua kebudayaan didunia, secara universal menyangkut lima maslah pokok kehidupan manusia yaitu :
• Hakekat hidup manusia, untuk setiap kebudayaan berbeda secara ekstreme; ada yang berusaha untuk memadamakan hidup, ada pula dengan pola-pola kelakuakan tertentu menganggap hidup sebagai suatu hal yang baik.
• Hakekat karya manusia, setiap kebudayaan hakekatnya berbeda-beda, diantaranya ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan untuk hidup.
• Hakekat waktu manusia, setiap kebudayaan hakekatnya berbeda-beda; ada yang berpandangan mementingakan orientasi masa lalu, ada pula yang berpandangan unttuk masakini dan masa akan datang.
• Hakekat alam manusia ada budaya yang menganggap manusia harus mengeksploitasi alam atau ada budaya yang beranggapan alam dan manusia harus saling berdampingan satu sama lain.
• Hakekat hubungan manusia dalam hal ini ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia, baik secara horizontal (sesamanya) maupun secara vertikal (orientasi kepada tokoh-tokoh) adapula yang berpandangan individualistis ( menilai tinggi kekuatannya sendiri)
Perubahan kebudayaan dalam hal ini masyarakat dan kebudayaan dimanapun selalu dalam keadaan berubah secara dinamis. Terjadi gerakan/perubahaan kebudayaan dapat dipengaruhi beberapa sebab yaitu :
1. Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri.
2. Sebab-sebab perubahaan lingkungan alam dan fisik tempat tinggal meraka.
Proses akulturasi atau pencampuran suatu kebudayaan dapat berlangsung mudah, beberapa masalah yang menyangkut proses ini adalah :
1. Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang mudah diterima.
2. Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang sulit diterima.
3. Individu-individu manakah yang cepat menerima unsur-unsur yang baru.
4. Ketegangan-ketegangan apakah yang timbul sebagai akibat akulturasi tersebut.
Unsur-unsur yang dapat mempermudah proses akulturasi :
• Unsur kebudayaan kebendaan yang dapat mempermudah dan bermanfaat bagi masyarakat yang menerimanya.
• Unsur-unsur yang terbukti membawa mafaat besar.
• Unsur-unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masayarakat yang menerimanya.
Unsur-unsur yang sulit untuk diakulturasi :
• Unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah hidup, dan agama.
• Unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisai.
Secara umum generasi muda cenderung lebih dapat menerima kebudayaan baru dibanding dengan generasi sebelumnya. Berbagai faktor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya suatu unsur kebudayaan baru diantaranya :
 Terbatasnya masyarakat memiliki hubungan atau kontrak dengan kebudayaan dan dengan orang-oarang yang berasal dari luar masyarakat tersebut.
 Jika pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan ditentukan oleh nilai-nilai agama.
 Corak struktur sosial suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan kebudayaan baru.
 Suatu unsur kebudayaan diterima jika sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru tersebut.
 Apabila unsur yang baru itu memiliki skala kegiatan yng terbatas.
Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah manusia sebagai perilaku kebudayaan dan kebudayaan merupakan objek yang dilaksanakan manusia. Dari sisi lain, hubungan manusia dengan kebudayaan dapat dipandang setara dengan hubungan antara masnusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis atau saling terkait sau sama lain. Proses dialektis tercipta melalui tiga tahap yaitu :
 Eksternalisai yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunia.
 Obyektivitas yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas objektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dab berhadapan dengan manusia.
 Internalisasi yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakat sendiri agar dia dapat hidup dengan baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat..

Stats

Translete