hmm,...ngomongin soal kebebasan dalam pendidikan, mungkin gak akan ada ujungnya.
Terutama dalam keluarga, pendidikan layaknya pilar dari bangunan, dari segi bahan bentuk ukuran sudah ditentukan dari sang pemilik rumah.
Orang tua terutama yang berperan dalam lakon pendidikan ini, menginkan pendidikan yang tinggi atau mungkin pendidikan yang lebih dari sang orang tua miliki.
Entah gw mesti tertawa terbahak-bahak ataukah gw mesti sedih melihatnya, dikala seseorang menuntut ilmu atas kehendak orang tua dan penuh akan paksaan.
oke, mungkin orang tua tahu yang terbaik buat anaknya tahu akan mana yang menjadi penunjang untuk hidupnya kelak. Namun apa orang tua tahu akan "siksa" yang dirasakan sang anak, disaat dia menuntut ilmu untuk sang orang tua dan bukan dibidang yang dimiliki sang anak. Apa bukan menjadi beban hidup sang anak, dimana saat di satu sisi dituntut untuk mengerti dan harus bisa di bidang pendidikan yang dia anyami sementara disatu sisi dia memikul akan keinginan orang tua.
Entah ini termasuk obsesi sang orang tua ataukah cita-cita yang harus terwujud melalui sang anak.
Tapi itulah yang memang terjadi di realita, beberapa teman yang gw kenal terkadang mereka mengeluh akan hal itu, mereka menuntut imu tinggi-tinggi hanya demi sang orang tua, sementara mereka sendiri tidak menguasai apa yang mereka pelajari.
Freedom Education, yap...itu sebutan gw untuk alur pendidikan yang dipegang keluarga gw, kebebasan untuk menuntut ilmu kebebasan untuk memilih ilmu apa yang harus dipelajari ( terkecuali ilmu agama, itu si udah termasuk kurikulum wajib dalam keluarga gw, hehehhe ) kebebasan dalam segalanya ( pendidikan maksudnya,..bukan yang lain..hhehehe )
Kenapa gw bisa bilang begitu,.
semua bermula dari awal bagaimana gw mengenal ilmu, dan lebih jelasnya saat gw akan mengecam pendidikan.
Saat itu umur gw sekitar 4 tahun, untuk anak seumuran segitu sudah seharusnya gw bermain ditempat apa yang gw sebut sebagai "tempat membosankan" yaitu Taman Kanak-Kanak. teman-teman gw yang seumuran gw pun sudah mulai memasuki TK, tapi tidak bagi gw, dengan asas dasar "Freedom Education" tentu saja ibu gw membiarkan gw, dan beliaupun hanya menawarkan apa gw ingin untuk masuk TK, dan saat itu juga gw hanya menjawab dengan tegas seperti halnya anak kecil, " gak mau ah,..ngapain cuma main-main doang disana,..enakan main dirumah". oke,.entah memang ibu gw yang mengerti apa itu kebebasan entah ibu gw memang terlalu sayang ama gw, dan akhirnya hingga umur 5 tahunpun gw gak pernah mengenal apa itu taman kanak-kanak yang berisikan banyak anak-anak kecil bermail seluncuran, berantem bersama teman, jatuh dari ayunan atau apalah itu.
Hingga saat itu juga beliau tetap tidak bertanya apa gw ingin sekolah atau apa, hingga akhirnya gw sendiri yang menginkan untuk masuk sekolah, dan segerapun beliau mencari sekolah dasar yang bagus dan menurut beliau memang layak untuk tempat belajar, tapi ya itu,.semua kembali lagi kepada gw, apakah gw mau disana atau tidak.
Hal itu pun berlanjut terus,..dari gw lulus SD dan memilih akan meneruskan ke SMP yang mana hingga sampai gw kuliah saat ini.
Menurut gw ini bukan hal aneh ( maklum ada beberapa temen gw yang bilang kalo itu aneh ) namun bagi gw ini merupakan hal yang bagus walaupun terlalu dini, menanamkan apa itu tanggung jawab, yap sebuah tanggung jawab, tanggung jawab akan apa yang gw pilih dan gw jalani sementara orang tua hanya memberi saran tanpa harus mengarahkan seperti apa yang seharusnya.
Menurut gw, seharusnya peran orang tua dalam menuntun sang anak dalam menuntut pendidikan hanya sebatas memberi saran, sementara pilihan kembali jatuh kepada sang anak.
Karena bukan orang tua lah yang menjalani namun sang anak yang menjalani.
Yap,..namun semua kembali kepada orang tua masing-masing, apa mereka masih mempertahankan bagaimana seharusnya anak mereka, haruskah mewujudkan impian sang orang tua dengan iming-iming keberhasilan dimasa depan atau tidak.
Terutama dalam keluarga, pendidikan layaknya pilar dari bangunan, dari segi bahan bentuk ukuran sudah ditentukan dari sang pemilik rumah.
Orang tua terutama yang berperan dalam lakon pendidikan ini, menginkan pendidikan yang tinggi atau mungkin pendidikan yang lebih dari sang orang tua miliki.
Entah gw mesti tertawa terbahak-bahak ataukah gw mesti sedih melihatnya, dikala seseorang menuntut ilmu atas kehendak orang tua dan penuh akan paksaan.
oke, mungkin orang tua tahu yang terbaik buat anaknya tahu akan mana yang menjadi penunjang untuk hidupnya kelak. Namun apa orang tua tahu akan "siksa" yang dirasakan sang anak, disaat dia menuntut ilmu untuk sang orang tua dan bukan dibidang yang dimiliki sang anak. Apa bukan menjadi beban hidup sang anak, dimana saat di satu sisi dituntut untuk mengerti dan harus bisa di bidang pendidikan yang dia anyami sementara disatu sisi dia memikul akan keinginan orang tua.
Entah ini termasuk obsesi sang orang tua ataukah cita-cita yang harus terwujud melalui sang anak.
Tapi itulah yang memang terjadi di realita, beberapa teman yang gw kenal terkadang mereka mengeluh akan hal itu, mereka menuntut imu tinggi-tinggi hanya demi sang orang tua, sementara mereka sendiri tidak menguasai apa yang mereka pelajari.
Freedom Education, yap...itu sebutan gw untuk alur pendidikan yang dipegang keluarga gw, kebebasan untuk menuntut ilmu kebebasan untuk memilih ilmu apa yang harus dipelajari ( terkecuali ilmu agama, itu si udah termasuk kurikulum wajib dalam keluarga gw, hehehhe ) kebebasan dalam segalanya ( pendidikan maksudnya,..bukan yang lain..hhehehe )
Kenapa gw bisa bilang begitu,.
semua bermula dari awal bagaimana gw mengenal ilmu, dan lebih jelasnya saat gw akan mengecam pendidikan.
Saat itu umur gw sekitar 4 tahun, untuk anak seumuran segitu sudah seharusnya gw bermain ditempat apa yang gw sebut sebagai "tempat membosankan" yaitu Taman Kanak-Kanak. teman-teman gw yang seumuran gw pun sudah mulai memasuki TK, tapi tidak bagi gw, dengan asas dasar "Freedom Education" tentu saja ibu gw membiarkan gw, dan beliaupun hanya menawarkan apa gw ingin untuk masuk TK, dan saat itu juga gw hanya menjawab dengan tegas seperti halnya anak kecil, " gak mau ah,..ngapain cuma main-main doang disana,..enakan main dirumah". oke,.entah memang ibu gw yang mengerti apa itu kebebasan entah ibu gw memang terlalu sayang ama gw, dan akhirnya hingga umur 5 tahunpun gw gak pernah mengenal apa itu taman kanak-kanak yang berisikan banyak anak-anak kecil bermail seluncuran, berantem bersama teman, jatuh dari ayunan atau apalah itu.
Hingga saat itu juga beliau tetap tidak bertanya apa gw ingin sekolah atau apa, hingga akhirnya gw sendiri yang menginkan untuk masuk sekolah, dan segerapun beliau mencari sekolah dasar yang bagus dan menurut beliau memang layak untuk tempat belajar, tapi ya itu,.semua kembali lagi kepada gw, apakah gw mau disana atau tidak.
Hal itu pun berlanjut terus,..dari gw lulus SD dan memilih akan meneruskan ke SMP yang mana hingga sampai gw kuliah saat ini.
Menurut gw ini bukan hal aneh ( maklum ada beberapa temen gw yang bilang kalo itu aneh ) namun bagi gw ini merupakan hal yang bagus walaupun terlalu dini, menanamkan apa itu tanggung jawab, yap sebuah tanggung jawab, tanggung jawab akan apa yang gw pilih dan gw jalani sementara orang tua hanya memberi saran tanpa harus mengarahkan seperti apa yang seharusnya.
Menurut gw, seharusnya peran orang tua dalam menuntun sang anak dalam menuntut pendidikan hanya sebatas memberi saran, sementara pilihan kembali jatuh kepada sang anak.
Karena bukan orang tua lah yang menjalani namun sang anak yang menjalani.
Yap,..namun semua kembali kepada orang tua masing-masing, apa mereka masih mempertahankan bagaimana seharusnya anak mereka, haruskah mewujudkan impian sang orang tua dengan iming-iming keberhasilan dimasa depan atau tidak.